Inginku

Andai malam datang lebih cepat. Aku ingin bertemu dengan bintang. Karena aku benci teman-temanku. BENCII!!! Aku tidak minta kok, ditakdirkan seperti ini. Lagipula, apa mereka sadar bila mengejekku, berarti mereka mengejek Tuhan yang menciptakanku, menciptakan mereka. Sadarkah mereka bahwa kita ini sama? Sama-sama tercipta sebagai makhluk yang paling sempurna. Manusia. Meskipun aku tahu, aku tak sesempurna mereka.

Untunglah sahabatku, Nena, masih mau mengerti perasaanku. Dia bisa membuatku tersenyum bahagia. Membuat semangatku untuk hidup kembali ada setelah sebelumnya redup. Huuuh, semua gara-gara kecelakaan itu!

***

Bintang… aku sedih… bisa tidak ya, tanganku disambung lagi… Aku tak suka hidup seperti ini.

Bintang…Tahukah engkau? Aku hanya menceritakan semua masalahku padamu. Sebab tak ada gunanya jika bercerita pada orang lain dan aku percaya padamu. Kau bisa merahasiakan apa yang kuceritakan. Iya kan,bintang?

Benar kan? Aku harap, kau benar-benar mendengarnya.

“Cepetan dong ngeluarin bukunya! Pak Guru kelamaan nunggu tuh!”

“Kamu kayak nggak tahu dia aja. Dia kan cewek buntung!”

Teringat kembali kata-kata temanku tadi pagi.

Hhh… seharusnya aku sudah terbiasa dengan seribu celaan itu. Tapi, aku kan juga manusia?! Manusia yang pasti akan sakit hati jika dihina dengan kekurangan mereka.

Uuuh, seandainya kecelakaan itu tak terjadi… pasti aku tak akan kehilangan kedua orang tuaku!!! Memang, akulah yang patut disalahkan. Waktu itu aku mengajak mereka ke Mall. Ya Allah… maafkan aku karena telah menuruti hawa nafsuku sendiri. Padahal, aku tahu kalau ayah pasti capek setelah pulang kerja waktu itu.

Tapi… kenapa?

Kenapa aku tak mati saja bersama mereka?!

Dan mengapa tanganku mesti diamputasi? Ketika hal itu kutanyakan pada Tante, adik ayah yang bagiku adalah seorang malaikat karena mau mengajakku tinggal di rumahnya, ia pun tak mau memberitahuku.

Sebenarnya ada apa dengan tanganku?

Jawabannya, tak ada yang tahu.

Astaghfirullah… Maafkan aku Ya Allah, aku tak bermaksud menyalahi takdir-Mu…

Kulihat bulan tersenyum padaku. Sebenarnya… itu lebih dari cukup untuk menghiburku. Tapi… meskipun begitu, entah mengapa aku yakin senyum Ibu lebih indah daripada senyum bulan. Lebih terang dari sinar bintang… di surga sana. Kapan aku bisa melihatnya langsung dari wajah sucinya?

***

Tiba-tiba gelap. Yang terakhir kuingat, aku membonceng Nena ketika pulang sekolah. Tiba-tiba ada motor yang menyerempet. Berbaju hitam. Juga helm hitam. Aku seperti kenal dengan mereka. Tapi, mungkin aku salah. Mungkin… mereka memang mirip. Dengan orang yang pernah membenci orangtuaku dulu. Ah, mungkin hanya mirip.

Tapi yang tidak kusangka, Nena terguling dan jatuh. Entah kenapa aku merasa dia sengaja. Aku berteriak, sedangkan dia tidak. Seperti tidak mengalami kejadian apa-apa. Selanjutnya, aku tak tahu apa yang terjadi.

***

Nena.

Satu nama yang muncul dan memenuhi otakku setelah aku terbangun. Aku bermimpi, dia telah melakukan kerjasama dengan musuhku dulu. Hey, benarkah itu musuhku? Mereka yang berbaju hitam itu? Nena berjanji membantu mereka. Demi membunuhku karena dendam mereka atas orangtuaku. Aneh, jelas-jelas orang tua mereka salah. Kenapa menyalahkan orang tuaku jika pada akhirnya orangtuaku memenjarakan orang tua mereka?

Aku juga tidak mengerti. Kenapa Nena? Kenapa orang yang sudah aku anggap sahabat? Kenapa hanya karena uang dia begitu? Lalu apa artinya persahabatan kami? Aku pikir Nena tulus berteman denganku…

Hey, tiba-tiba aku tersadar. Perlahan kubuka kedua mataku. Semua terlihat serba hitam. Gelap. Pekat. Kenapa begini?

Aku tak tahu ada di mana aku sekarang. Yang kutahu, badanku terasa lemas. Atau mungkin, lebih dari itu. Oh tidak… aku benar-benar tak mengerti.

Samar terdengar suara-suara. Suara orang yang berbicara dan isak tangis. Ya Allah, aku tahu suara tangis itu. Aku tahu, tapi kenapa terdengar begitu menyedihkan?

“…Hhh…Ta..Tante?”

“Oh, dia sadar!”suara asing tadi kembali terdengar. Baru kutahu, ternyata pemilik suara itu adalah dokter yang merawatku. Dan aku berada di salah satu ruangan rumah sakit yang aku sendiri tak tahu bagaimana isi dan bentuk ruangannya.

“Uuugghh..”aku mencoba bangkit di atas pembaringan. Tapi usahaku sia-sia.

“Tika!!!” Tante berteriak. Terdengar sangat khawatir.

“Aku…kenapa tante?”

Terdengar suara langkah kaki yang menjauh. Lalu suara pintu yang terbuka. Hingga akhirnya lenyap.

“Maafkan Tante, Ka…Tante tak bisa menjagamu,” ucapnya. Membuatku semakin larut dalam ketidakmengertian. Ditambah lagi, ia menangis.

Lalu mengalirlah cerita-cerita itu dari mulutnya; Tulang tangan kiriku yang hancur dan terpaksa diamputasi karena tak mungkin bisa disambung lagi. Aku yang kecelakaan diserempet orang. Nena yang sengaja bekerja sama dan selamat. Nena yang kabur dan meninggalkanku begitu saja. Aku yang gegar otak dan tiba-tiba menjadi buta…

Tante semakin terisak.

Uuuh, ada apa ini? Kenapa semua terjadi begitu tiba-tiba? Kenapa semua menjadi seperti ini?

Kucoba mengumpulkan semua kepingan-kepingan dalam hidupku. Tapi, mengapa sejauh ini kepingan itu menyakitkan?

“Sudahlah, Tante…” aku meraba-raba sekitar kasur, mencari tangannya. Setidaknya aku bisa sedikit menghiburnya, mengurangi rasa bersalahnya terhadapku. Meski sebenarnya aku juga sakit. Meski aku tak bisa mengusap airmatanya. Karena di ruangan ini masih gelap dan tak terlihat.

***

Badanku bergetar. Gigiku bergemeretak hebat. Dan tanganku mengepal keras-keras. Entah berapa kali aku seperti ini. Ya Allah…ada apa lagi ini?

Setelah aku mengalami kejang-kejang seperti itu, aku memejamkan mataku rapat-rapat. Aku tak mungkin berteriak, aku hanya sendiri disini. Ditinggalkan oleh Tante karena kata dokterku, ia tak boleh terlalu sering menjenguk. Memangnya ada apa lagi denganku? Dokter itupun hanya sesekali masuk ke ruanganku untuk menyuntik atau memberi obat padaku.Ya, meskipun aku tidak bisa melihatnya, karena ruangan ini yang sangat gelap, tapi aku masih bisa merasakan dia membantu memasukkan obat ke dalam mulutku.

Mengapa… mengapa harus seperti ini? Aku tak tahu mengapa ini semua bisa menimpaku.

Aku takut… aku takut penyakitku lebih dari apa yang aku kira. Aku… tak mungkin sakit begitu lama, kan? Hingga berhari-hari, bahkan berbulan-bulan? Tidak mungkin kan?

Entah mengapa, segalanya terasa semakin gelap. Di saat seperti ini, aku teringat pada bintang. Juga pada bulan. Mereka yang selalu menghiburku. Mereka yang mendengarkan semua keluh-kesahku. Mereka yang mampu menenangkan semua risauku. Semua yang dapat terjadi pada malam yang gelap. Tidak seperti ruangan ini yang gelap, tapi tak indah tanpa bintang dan bulan. Aku benar-benar merindukan mereka.

***

*sumber gambar dari sini.

**cerpen ini ditulis tahun 2008, ketika penulis masih kelas 2 SMP, sedikit direvisi tanggal 11 Juni 2011.

About veera

i'm a girl who always wanna know more about world, about knowledge, and everything i like. i like to meet many more of people, and i want to increase my friends.

Posted on 11 June 2011, in Cerpen and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 6 Comments.

  1. Ceritanya keereen.

    mau nanya, gimana caranya bikin biodata singkat diantara tulisan n komentar?

  2. aduh..
    Sedih banget ceritanya..
    Menyentuh hati gue..

  3. I have fun with, result in I found just what I was looking for.
    You’ve ended my 4 day lengthy hunt! God Bless you man. Have
    a nice day. Bye

  1. Pingback: [Al-Yaum 142] Fan Page DoyanNulis di Facebook | My Love, My Life !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: