Lembah Cermin Catalpa – bagian 1

Aku masih merasa takjub dengan lukisan kakak. Selalu aku tak pernah merasa bosan jika memandang lukisan kakak lama-lama. Garya, pembuat karya. Sebuah karya seni yang harus diapresiasikan ke dalam bentuk nyata. Kakak… aku rindu padamu. Bisakah aku melihatmu sekali lagi walau hanya dalam mimpi?

Mustahil.

Satu hal yang tak terelakkan dalam hidupku, adalah saat dimana aku benar-benar merindukan Garya. Dan saat itu adalah sekarang. Kakak, apa kau baik-baik saja? Aku pikir kau akan bahagia di Surga. Kau pasti senang disana. Bukankah impianmu adalah melihat Taman yang Paling Indah? Aku akan ikut bahagia, Kak.

Aku merogoh sakuku, mengambil cincin kayu yang dulu pernah diberi Garya untukku. Kayu pohon Lacebark. Aku menyukainya. Aku menyukainya saat Garya pertama kali memberikannya untukku. Aku menyukainya saat aku bermimpi cincin itu berubah warna menjadi ungu keperakan. Bukan cincin kayu biasa. Aku menyukainya saat aku tahu bahwa mimpiku menjadi kenyataan.

Dan aku membencinya, ketika cincin itu berubah menjadi kayu lagi sesaat sebelum Garya pergi untuk selamanya.

Aku kembali menyukainya, saat aku melihat kamar Garya yang penuh dengan lukisan. Dan hey, cincin itu ada dalam lukisannya!

Tergambar dalam kanvas, seorang gadis memperlihatkan jari-jarinya yang bercincin kayu. Gadis itu memakai mahkota yang terbuat dari bunga Krisan. Dan aku merasa, itulah aku.

***

Teratai menyapaku. Lalu berjalan bersamaku ke dalam bus. Aku kembali sekolah hari ini, setelah libur panjang kemarin.

Di dalam bus, Teratai bercerita padaku bahwa semalam ia bermimpi bertemu dengan Garya. Mukanya bersinar cerah. Berseri-seri.

“Aku mimpi Kak Garya!” katanya. Wajahnya memerah. Mungkin malu.

“Hmm, terus?”

“Dia hidup. Dia benar-benar hidup. Dia bermain bersama kita! Dia melukis kita!”

Aku kaget. Apa itu? Aku juga bermimpi itu semalam.

“Krisan, kamu harus tahu, dia benar-benar menganggapku sebagai adiknya. Dalam mimpi itu, dia memberiku lukisan bunga Teratai. Dan sekarang, aku benar-benar rindu padanya.”

Aku tersenyum. Teratai selalu begini jika bicara soal Garya. Keinginannya sejak dulu adalah menjadi adik Garya. Aku hanya asyik saja membayangkan bagaimana jadinya keluargaku jika Teratai benar-benar menjadi saudaraku.

Lalu bus sampai di sekolah. Kami turun. Masuk kelas dan duduk bersebelahan. Selalu bersama dia. Tapi karena Teratai, aku selalu bisa mengobati rinduku pada Garya.

***

Entah kenapa, hari ini aku ingin mencari buku harian milik Garya. Apa dia punya? Kurasa iya. Aku harus menemukannya. Besok adalah ulang tahunnya. Aku ingin tahu apa keinginan terbesarnya selain ingin ke Taman yang Paling Indah. Aku ingin memenuhi keinginannya.

Aku kembali masuk ke kamarnya, kali ini bersama Teratai. Aku minta pada Teratai supaya dia membantuku. Oke. Tak masalah, katanya. Aku yakin dia malah senang atas tawaranku kali ini.

Kutemukan buku berwarna hijau di dalam rak bukunya. Agak tebal, persis diary. Tapi… apa iya ini? Kenapa ia meletakkannya di rak buku? Bukankah ini tempat yang mudah dilihat orang? Bagaimana jika ada orang lain yang membacanya? Ahh. Aku rasa aku tahu jawabannya.

Aku memanggil Teratai dan mengajaknya duduk bersama di atas kasur. Membuka lembar demi lembar buku itu. Kosong. Aku pikir itu adalah buku hariannya. Tapi kenapa tak ia tulisi?

Sesuatu jatuh dari lembaran buku itu. Foto. Fotoku.

Teratai menatapku. Lalu menatap foto itu.

Dahiku mengernyit. Aku balik foto itu. Ada tulisan di sana.

Aku hanya berharap, aku : Garya, bisa membawamu ke tempat yang sejuk itu. Aku ingin, kau : Krisan, dapat menikmati tempat itu, bersamaku. Kau akan bahagia di sana. Aku tahu kau akan menyukainya.Tapi… Maaf Krisan, aku tak bisa membawamu saat ini. Aku yakin,suatu saat kau akan tahu tempat itu. Meski bukan aku yang mengajakmu. Aku… masih berat menerima bahwa kau adalah Tulip. Maafkan Kakak, Krisan. Kakak tak ingin kau tahu masalah kakak. Semoga kau memaklumi, Krisan-ku.

“Apa maksudnya?” kataku.

“Aku rasa, Kak Garya ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

“Di mana? Di mana tempat itu?”

Teratai angkat bahu, “ Mana aku tahu.”

“Lalu, apa masalahnya?”

“Kenapa masih tanya aku?”

Ah… benar juga. Teratai mana tahu.

Aku menghela nafas, berat.

Suatu saat… ya, suatu saat, aku akan tahu. Aku akan tahu tempat itu. Tapi kapan?

Sekarang, aku tak butuh lagi mencari diary Garya. Ini sudah cukup bagiku.

***

Kemanapun aku pergi, aku bawa diary hijau kosong milik Garya. Aku yakin, ini bukan buku biasa. Tak apa meski kosong. Aku yakin ini berarti.

Mama geleng-geleng kepala melihatku begini. Mungkin prihatin. Mungkin kasihan. Tapi mungkin berpikir bahwa tingkahku konyol dan terlalu kekanakan.

Sejak aku tahu buku itu, aku selalu ingin bercerita dengan cermin. Hah, apa hubungannya diary dengan cermin? Pada akhirnya, aku merasa bahwa mereka berkaitan. Sama-sama berhubungan dengan Garya. Diary milik Garya, cermin dari Garya, dan aku, adik Garya. Dan kuceritakan semua pada cermin. Menceritakan pada cermin bahwa aku merindukan kakakku. Menceritakan cermin bahwa aku bosan hidup begini. Menceritakan cermin bahwa Teratai pun rindu pada Garya. Menceritakan cermin, bahwa aku ingin tahu tempat yang ingin Garya tunjukkan padaku. Aku, hanya ingin tahu.

Aku menggeleng perlahan, lalu tiba-tiba menangis.

Tidak mungkin. Aku tidak mungkin tahu. Tanpa Garya beritahu. Kakak… bagaimana mungkin aku bisa mengetahui tempat itu tanpa kau ajak aku kesana? Siapa lagi yang tahu?

Aku makin terisak. Di depan cermin. Lalu aku tatap wajahku. Wajah bulat yang penuh air mata. Tak lama kemudian, aku terkejut. Wajah seseorang di cermin itu tak lagi basah. Ia tersenyum dan menatapku. Apa itu aku? Aku sentuh pipiku. Masih berair. Tapi, kenapa gerakanku tak sama dengan gadis itu? Dengan gadis di seberang kaca itu?

Aku merogoh sakuku. Mengambil cincin kayu dari Garya dan memakainya. Kucoba memperlihatkan tanganku ke dalam cermin. Apa bayangan cincin ini ada? Eh, tapi kenapa aku tiba-tiba mengambil cincin ini? Aneh, tetap bayanganku tak ada. Hanya gadis itu tetap tersenyum. Ini kaca atau cermin? Sepertinya benar-benar cermin. Tak biasanya begini. Aku raba cermin itu. Wajah gadis itu. Lalu tangan gadis itu menyentuhku. Dan aku… merasa aku berputar sangat cepat.

Ketika terbangun, aku merasa bahwa aku tak berada di tempat semula…

(bersambung ke bagian 2)

*cerita ini pernah dimuat di majalah lokal (pesantren) EstaFETA

About veera

i'm a girl who always wanna know more about world, about knowledge, and everything i like. i like to meet many more of people, and i want to increase my friends.

Posted on 7 June 2011, in Cerbung, Lembah Cermin Catalpa and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 9 Comments.

  1. Blog barunya belum dapat AWARD kan?

    Nih kakak kasih AWARD, diterima ya.
    Silahkan cek di http://penuliscemen.com/horeee-dapet-award/

  2. hemm……. klo aq ikutan nulis boleh g??

    • boleh banget! wk.
      langsusng kirim propil lewat imel yakk? ;D

      • gini aja.. aq kirim tulisan saja lewat email.. sebagai gantinya.. kamu kasih backlink ke blog aq..
        setuju??

      • gaboleh😀
        ayooo donk, gabung deh, yayaya? entar kan penulisnya otomatis ketulis diatas judul… kayak itu tuh, diatas, ada tulisan : Posted by veera , ato postingan sebelumnya, posted by ronamalina… ntar kalo kakak ngirim lewat imel en aku yang posting dikira aku yang nulis -,-”

        aku kirimin deh, apa aja yang harus diisi entar lewat imel, okeeh?😉
        ntar langsung aku invit koook ;D

      • ok.. udah tak confrim..😉
        makasih sudah boleh gabung

  3. Wah keren banget ceritanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: